Anak Tantrum Ini yang harus Dilakukan

Ketika Anak Tantrum, Ini yang harus Dilakukan

Sedang asyik-asyiknya berbelanja di mall lalu anak menangis menjerit-jerit meminta sesuatu? Kejadian ini tentunya akan membuat orangtua kesal. Selain karena susah diatur, anak tantrum juga akan begitu menarik perhatian. Namun jangan panik dulu, Bu, jika anak tantrum ini yang harus dilakukan.

Apa Penyebab Tantrum?

Temper tantrum adalah ledakan kemarahan dan frustrasi emosional.

Tantrum biasanya dimulai sekitar usia 12 hingga 18 bulan dan mencapai puncaknya pada umur 2 tahun. Ini adalah satu periode dari perkembangan anak, ketika mereka mulai mendapatkan rasa diri dan menegaskan kemandirian mereka dari orang tua. Tantrum juga bisa terjadi ketika anak-anak belum belum bisa berkomunikasi dengan baik untuk menyampaikan kebutuhan mereka.

Kombinasi ini merupakan pencetus utama bagi anak untuk mengamuk. Kelelahan, kelaparan, dan penyakit bisa membuat tantrum lebih buruk atau malah lebih sering terjadi.

Anak Tantrum Sampai Usia Berapa?

Dalam kebanyakan kasus, tantrum mulai berkurang dari waktu ke waktu dan biasanya hilang pada usia 4 tahun. Ketika anak membuat ulah, Ibu mungkin berpikir bahwa itu adalah kesalahan Ibu. Namun itu tidak benar.Tantrum adalah bagian normal dari perkembangan masa kanak-kanak, dan itu terjadi bukan karena Ibu adalah orang tua yang buruk atau karena Ibu melakukan kesalahan.

Baca juga: Tanda-tanda Anak Butuh Konsultasi Psikolog

Apa Saja Ciri Anak Tantrum?

Ciri anak tantrum yang utama tentu saja mengamuk. Anak mungkin menampilkan satu atau lebih perilaku berikut:

  • Merengek
  • Menangis, menjerit, dan berteriak
  • Menendang dan memukul,
  • Menahan nafas mereka,
  • Menjepit/mencubit,
  • Menggigit,
  • Menegangkan tubuh dan meronta-ronta.
ciri anak tantrum
ciri anak tantrum

Cara Cerdas Menghadapi Anak Tantrum

Jika anak tantrum di depan umum, maka strategi berikut bisa membantu Ibu mengendalikan kemarahan si kecil.

Tetap Tenang

Penting bagi Ibu untuk tetap tenang. Jika memungkinkan, jangan biarkan tantrum anak mengganggu apa yang sedang Ibu lakukan, dan jangan bereaksi dengan ancaman atau amarah anak. Ini akan memungkinkan anak tahu bahwa tantrum bukan cara yang efektif untuk mendapatkan perhatian atau mendapatkan apa yang mereka inginkan. Tunggulah hingga tantrum anak mereda untuk membahas perilaku anak.

Abaikan saja Tantrum
Jika memungkinkan, berpura-pura bahwa tidak ada yang terjadi. Jika anak berada di tempat yang aman dan Ibu merasa sulit untuk mengabaikan tantrumnya, maka tinggalkan ruangan itu.

Namun, perilaku tertentu tidak boleh diabaikan, seperti menendang atau memukul orang lain, melempar benda yang dapat menyebabkan kerusakan atau cedera, atau menjerit untuk waktu yang lama. Dalam situasi ini, keluarkan anak dari lingkungan, bersama dengan benda apa pun yang bisa berbahaya. Hal ini akan meyakinkan secara verbal bahwa perilaku seperti itu tidak dapat diterima.

Jangan Biarkan Mereka Melakukan Kekerasan

Jika anak berteriak, memukul, menendang atau melempar barang, maka segera hentikan mereka. Perjelaslah bahwa kekerasan tidak dapat diterima. Tetapi pastikan Ibu tidak melakukan kekerasan dalam prosesnya. Ibu bisa mengambil beberapa hak istimewa jika mereka berbuat salah. Dengan begitu, mereka akan tahu bahwa mereka dicintai, tetapi perilaku tidak tertib mereka tidak akan diterima.

Cobalah untuk Memahami Reaksi Anak

Ketika anak mencoba untuk berkomunikasi dengan Ibu, berusaha memahami apa yang mereka katakan. Ajukan beberapa pertanyaan kepada mereka untuk memudahkan mereka mengekspresikan ide mereka. Ini akan mengurangi rasa frustrasi dan menenangkan mereka.

Jangan Tertekan dengan Air Mata Mereka

Pasti sangat menyakitkan bagi Ibu saat melihat anak menangis. Tetapi jangan menghentikan tangisan mereka; tangisan melepaskan hormon stres kortisol. Setelah krisis berakhir, suasana hati anak bisa menjadi lebih baik.

Minta maaf jika Ibu Bereaksi Berlebihan

Jika Ibu telah kehilangan kesabaran, minta maaf dengan mengatakan sesuatu seperti, “Ibu menyesal, Ibu benar-benar bereaksi berlebihan.” Anak perlu tahu bahwa setiap orang melakukan kesalahan dan itu tidak masalah.

Bersikap Tegas

Minta maaf tidak berarti Ibu menyetujui tuntutan mereka. Jika si anak meminta sesuatu yang tidak bisa Ibu berikan, maka bersikaplah tegas. Biarkan mereka tahu bahwa ketika Ibu mengatakan tidak, maka itu artinya Ibu bersungguh-sungguh tidak akan menyetujui tuntutan mereka.

Hindarkan Anak dari Situasi Tantrum

Jika Ibu sedang di rumah dan anak tetap saja tidak mau tenang, maka bawalah anak ke keluar. Bawa mereka ke ruangan lain dan hilangkan benda apa pun yang mungkin mengalihkan perhatian mereka. Jika Ibu berada di depan umum, abaikan tantrum kecuali jika anak dalam keadaan bahaya dan bisa menyakiti diri sendiri atau orang lain. Dalam hal ini, respons terbaik adalah menghentikan aktivitas Ibu, ambil anak, dan pergi.

Coba Mengalihkan Perhatian Anak

Kadang-kadang, menawarkan aktivitas atau objek lain pada anak bisa membantu mengurangi tantrum. Ibu bisa memberinya buku, mainan atau memebuat wajah konyol.

Puji Anak Setelah Tantrumnya selesai

Berikan pujian dan penghargaan perilaku bila tantrum telah selesai misalnya dengan acungan jempol, ciuman, pelukan, sticker atau makanan karena pastinya ia sangat lelah dengan tantrumnya.

Kerja Sama dengan Anggota Keluarga Lain

Seluruh anggota keluarga harus bekerja sama dalam menangani tantrum anak. Ibu harus memberi pengertian pada mereka, terutama kakek dan nenek, agar tidak langsung memenuhi keingian anak ketika anak tantrum. Memenuhi semua keinginannya saat tantrum hanya akan membuat anak menjadikan hal itu sebagai kebiasaan.

Bahasa Isyarat Bisa Membantu

Cobalah mengajarkan beberapa tanda kepada anak prasekolah yang belum berbicara. Daripada menangis untuk apa yang mereka inginkan, mereka dapat menggunakan bahasa isyarat untuk berkomunikasi dengan Ibu. Langkah sederhana ini dapat mencegah tantrum. Awalnya tidak mudah, tetapi akan membuka jalan komunikasi alternatif yang semakin membaik seiring berjalannya waktu.

Baca juga: Makanan Ibu Menyusui agar Bayi Cepat Gemuk

Cara Mencegah Tantrum pada Anak

Strategi berikut dapat membantu mencegah tantrum:

  • Tetapkan rutinitas. Rutin atau jadwal yang konsisten memungkinkan anak tahu apa yang bisa diharapkan olehnya dan juga memberi mereka rasa aman.
  • Jadilah teladan. Anak-anak memandang orang tua mereka dan terus mengamati perilaku mereka. Jika anak melihat Ibu menangani kemarahan dan frustrasi Ibu dengan tenang, maka mereka akan lebih cenderung meniru perilaku itu ketika mengalami hal yang sama.
  • Berikan anak pilihan. Bila perlu, beri anak beberapa opsi dan izinkan mereka membuat pilihan. Ini akan membuat mereka merasa memiliki kendali atas keadaan mereka sendiri.
  • Pastikan anak makan dengan benar dan cukup tidur. Ini akan membantu mencegah tantrum yang disebabkan oleh kelelahan dan iritabilitas.
  • Jangan memperebutkan hal-hal sepele atau tidak penting, seperti pakaian yang lebih disukai anak. Cobalah untuk membatasi berapa kali Ibu mengucapkan kata “tidak.”
  • Perhatikan nada suara Ibu. Jika Ibu ingin anak melakukan sesuatu, maka buatlah agar permintaan itu terdengar seperti undangan, bukan perintah.

Seiring waktu, Anda akan belajar strategi mana yang paling berhasil dengan anak.

Baca juga: Empeng untuk Bayi Bagus atau Tidak?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: