Apa Penyebab Jerawat pada Bayi Baru Lahir

Apa Penyebab Jerawat pada Bayi Baru Lahir?

Memahami apa penyebab jerawat pada bayi baru lahir dan cara perawatan jerawat bayi secara alami.

Bayi baru lahir memiliki jerawat? Tenang, Bu, ini adalah kondisi kulit super umum yang mempengaruhi lebih dari 30% bayi baru lahir. Bintik-bintik di kulit bayi baru lahir itu tidak berbahaya dan akan hilang.

Apa Itu Jerawat Bayi?

Sebelum Ibu mengetahui apa penyebab jerawat pada bayi baru lahir, ada baiknya Ibu mengetahui apa sebenarnya jerawat bayi itu sendiri.

Jerawat bayi adalah kumpulan benjolan merah kecil yang biasanya ditemukan di wajah. Benjolan seringnya  terkonsentrasi pada pipi, dagu atau dahi, tetapi biasa juga muncul di kelopak mata bayi, dada atau leher. Jerawat bayi cenderung muncul dua sampai empat minggu setelah bayi lahir dan harusnya sembuh sendiri dalam hitungan bulan.

Namun ada juga kondisi lain yang mirip dengan jerawat bayi, tetapi memerlukan diagnosis lebih lanjut dan juga serangkaian pengobatan. Untuk itu perhatikan kondisi benjolan pada wajah bayi secara saksama.

  • Milia: Ini adalah tonjolan putih kecil, mirip dengan whiteheads, yang muncul di hidung, dagu, dan pipi bayi. Tidak seperti jerawat bayi yang muncul beberapa minggu setelah kelahiran, Milia bisa muncul sejak lahir. Milia ini juga juga bisa terjadi bersamaan dengan jerawat bayi ketika kulit bayi sedang menyesuaikan diri dengan kehidupan di luar rahim. Milia lebih sering disebabkan oleh sel-sel kulit yang terkelupas dan terperangkap di lapisan luar dermis.
  • Ruam Panas / Biang Keringat: Sementara jerawat bayi ada di wajah, ruam panas cenderung muncul di area yang tertutup oleh pakaian  termasuk di dada, perut dan leher. Namun biang keringat juga bisa muncul di paha dan bokong. Ruam panas tampak seperti kemerahan pada kulit dengan banyak tonjolan merah kecil.
  • Eksim : eksim bisa terlihat mirip dengan jerawat bayi, terutama ketika muncul di pipi. Namun eksim memiliki tampilan khas, kemerahan,patchy dan kulit kering bersisik. Eksim juga umum terjadi pada bayi dan bisa muncul di daerah dengan gesekan tinggi, seperti lipatan siku dan lutut. Eksim dapat disebabkan oleh makanan, gaya hidup, keseimbangan flora usus, kekeringan dan juga oleh genetika.
  •  Infeksi: Jika benjolan menyebar di  luar wajah atau jika bayi mengalami demam atau gejala flu, segera hubungi dokter anak karena ini mungkin tanda-tanda infeksi seperti RSV / respiratory virus.

Baca juga: 5 Cara Menggendong Bayi yang Benar dan Nyaman

Apa Penyebab Jerawat pada Bayi Baru Lahir?

Jerawat bayi merupakan hal lumrah dan tidak berbahaya. Tidak peduli apakah dia diberi ASI atau susu formula, si kecil tetap memiliki kemungkinan memiliki jerawat dengan tingkat yang sama. Hingga kini, komunitas ilmiah belum mencapai konsensus yang jelas tentang apa penyebab jerawat pada bayi baru lahir. Namun ada beberapa hal yang disinyalir menjadi penyebab jerawat pada bayi baru lahir.

Hormon ibu

Berbagai peneliti telah memperlihatkan bahwa sisa-sisa hormon Ibu yang ada di aliran darah bayi selama masa kelaihan akan menyebabkan produksi minyak di tubuh si kecil. Sementara itu, kelenjar keringat si kecil juga belum matang sehingga mengakibatkan tumbuhnya jerawat.

Flora usus yang tidak seimbang

Menurut sebuah artikel yang diterbitkan oleh Asosiasi Dokter Anak Internasional, flora usus oportunistik juga bisa memperburuk jerawat bayi. Flora usus bayi mulai berkembang sejak mereka masih dalam kandungan. Dengan dipengaruhi oleh kesehatan usus Ibu, si kecil mulai mengembangkan flora ususnya sendiri sejak dalam rahim. Flora usus ini akan terus tumbuh dan berkembang selama proses kelahiran dan juga melalui kontak dengan dunia yang lebih luas. Ada perkumpulan kondisi yang bisa terjadi pada flora usus yang tidak seimbang, termasuk peradangan, iritasi, dan bahkan jerawat.

Apa Penyebab Jerawat pada Bayi Baru Lahir
Apa Penyebab Jerawat pada Bayi Baru Lahir

 

Perawatan Alami untuk Jerawat Bayi

Setelah tahu apa penyebab jerawat pada bayi baru lahir, tentu Ibu sadar bahwa akan sangat susah mencegah timbulnya jerawat. Jika jerawat itu sudah mulai muncul, Ibu tidak perlu panik karena ini sama sekali bukan hal yang berbahaya. Selain itu, jerawat juga tidak mengiritasi atau menimbulkan rasa sakit, dan akan segera bersih tanpa sedikit pun meninggalkan luka parut. Namun jika ternyata jerawat bayi belum hilang dalam wakttu tiga bulan, maka hubungi dokter.

Hal terbaik yang bisa Ibu lakukan ketika si kecil sedang berjerawat adalah dengan menjaga kulitnya agar tetap bersih dan jangan mengganggu jerawat. Beberapa sumber memang menyarankan untuk mengobati jerawat dengan ASI. Hal ini bisa saja berhasil, karena menurut sebuah artikel di British Journal of Midwifery, ASI memang bisa membersihkan pori-pori tersumbat sebagai akibat perbedaan tingkat pH kulit dan ASI.

Selain itu, Ibu juga bisa membantu dengan melakukan hal-hal berikut ini:

  • Hindari  Memakaikan pakaian yang berlebihan.  Pakaian yang berlebihan malah akan membuat kondisi kulit si kecil semakin buruk karena menjebak terlalu banyak panas pada kulit sehingga menyebabkan keringat, iritasi berlebih dan bahkan  proliferasi bakteri. Tentu saja, dalam beberapa hari pertama kehidupan, bayi yang baru lahir mengalami kesulitan mengatur suhu, itulah sebabnya kontak kulit ke kulit dengan Ibu sangat penting.
  • Hindari  tindakan pembersihan yang Berlebihan. PH bayi seimbang. PH kulit saat lahir adalah 6,4, tetapi berkurang menjadi 4,9 dalam minggu pertama. Untuk bayi yang lahir prematur, proses ini dapat berlangsung lebih lama. Asidifikasi ini membantu sebagai antibakteri alami dan perlindungan alami terhadap infeksi. Sabun, pembersih, lotion, dan produk kulit lainnya dapat mengganggu kerja alami dan luar biasa yang dilakukan kulit bayi. Beberapa keluarga mungkin memilih hanya menggunakan air untuk memandikan bayi mereka yang baru lahir. Pada tahun 2002, Sharon Trotter, seorang bidan praktik di Inggris, melakukan penelitian dan observasi menyeluruh untuk menunjukkan bahwa bayi yang hanya dicuci dengan air untuk bulan pertama tidak menunjukkan penyakit kulit seperti jerawat bayi, cradle cap , dan ruam lainnya. Penelitiannya telah dikutip beberapa kali dalam British Journal of Midwifery .
  • Gunakan Cuka Sari Apel. Campurkan cuka sari apel dengan air dalam perbandingan yang sama, lalu aplikasikan campuran ini pada area kulit bayi yang berjerawat dengan menggunakan bola kapas. Setelahnya, bilas kulit bayi hingga bersih
  • Probiotik untuk Ibu dan Bayi. Jika Ibu  sedang menyusui, jaga pola makan dan penuhi kebutuhan probiotik Ibu. Ibu bisa mencoba yoghurt, kimchi, kefir, atau miso. Tidak peduli apa pun kebutuhan dan preferensi diet Ibu, usahakan agar Ibu mengonsumsi makanan fermentasi yang penuh dengan probiotik. ASI akan mendorong pertumbuhan bakteri yang baik di usus bayi, dan bahkan membantu menyediakan probiotik yang paling bermanfaat dan juga tepat untuk bayi. Merupakan ide bagus bagi ibu untuk juga mengonsumsi probiotik tambahan untuk meningkatkan bakteri sehat dalam kolostrum dan ASI. Ada juga beberapa cara yang aman dan efektif untuk memberikan probiotik kepada bayi, tetapi harus dalam saran dokter. Manfaat suplemen probiotik ini termasuk mengurangi kecenderungan alergi , menghindari kolik, refluks asam, atau diare. Probiotik diberikan dalam bentuk bubuk atau cair yang dapat dicampur dengan ASI atau susu formula dan diberikan kepada bayi, atau bahkan langsung ditempelkan ke puting jika Ibu sedang menyusui. Jika Ibu memberi suplemen probiotik untuk bayi, pastikan untuk memantau masalah-masalah seperti pengembangan alergi atau respons imun yang berubah . Sekali lagi, pastikan untuk berkonsultasi dengan dokter.

Baca juga: 5 Penyebab BAB Bayi Berlendir Kuning

Penggunakan Probiotik

Akademi Dermatologi Amerika juga mengesahkan aplikasi topikal probiotik untuk mengobati jerawat. Penelitian telah menemukan bahwa probiotik yang dioleskan secara topikal membantu mengobati jerawat dengan tiga cara.

1.) Probiotik yang diaplikasikan pada kulit menciptakan pelindung sehingga sistem kekebalan bayi tidak menargetkan dan memperburuk jerawat.

2.) Probiotik sendiri dapat menyerang bakteri jahat yang bisa memicu peradangan.

3.) Probiotik memiliki efek menenangkan pada sel-sel kulit untuk mengurangi respon imun.

Setelah penelitian, beberapa peserta mulai bereksperimen dengan menerapkan masker yoghurt pada kulit mereka untuk menciptakan efek probiotik yang bermanfaat. Ini juga bisa dicapai dengan membuat pasta dengan probiotik cair atau bubuk. Namun, belum ada penelitian atau penelitian untuk membuktikan keefektifan masker probiotik buatan sendiri.

Meskipun tidak sedap dipandang, jerawat bayi benar-benar normal, umum dan tidak menimbulkan risiko bagi si kecil. Meskipun Ibu mungkin tergoda untuk mencari perawatan cepat atau perawatan jerawat bayi, tetapi hal terbaik yang bisa Ibu lakukan adalah bersabar dan biarkan kulit bayi melakukan hal tersebut. Kulit manusia memiliki begitu banyak perlindungan bawaan dan akan lebih baik jika Ibu meminimalkan campur tangan Ibu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: